Bukan agamamu, bukan tuhanmu, tapi rasa humormu yang akan menyelamatkan kita semua. Darah tak perlu tumpah, tangis tak perlu pecah, dendam dan prasangka tak perlu bersarang di hati. Semua boleh benar, semua bisa salah. Yang kau anggap benar, menurutku salah. yang kau anggap nomor satu, menurutku penipu. Aku atau kau yang tertawa, tak jadi masalah, sebab semua manusia pada akhirnya kalah. Ketika hukum, ilmu pengetahuan, negara dan perikemanusiaan gagal jadi jawaban, maka tertawalah.
Tertawalah, tertawalah, ketika kau berhenti mencari jawaban. Tertawalah, tertawalah, ketika semua hal yang kau percayai dalam kehidupan, ternyata tak lagi relevan.
bukan tuhan siapa-siapa, bukan tuhanmu dan bukan tuhanku. seluruh tuhan dalam tulisan ini adalah tokoh rekaan semata, kesamaan nama atau karakter timbul di luar kesengajaan
Tampilkan postingan dengan label tertawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tertawa. Tampilkan semua postingan
Februari 12, 2011
Januari 13, 2011
rasa dan agama
Ada yang ingin menaklukkan dunia. Ada yang ingin menyelamatkan dunia.
Sisanya hanya ingin berbagi rasa. Sebisa mungkin bersenang-senang, jatuh cinta, tertawa.
Marah, takut, kecewa, atau sedih, boleh ikut ambil bagian, dalam porsi secukupnya.
Akan tiba saatnya, mereka yang ingin menaklukkan atau menyelamatkan dunia, akhirnya hanya ingin berbagi rasa, lewat lagu, lewat drama, lewat sepakbola atau orasi yang mempesona.
Agama? Sejak dulu takkan mampu menyatukan kita, karena ia bersandar pada konsep-konsep, ide-ide, nama-nama, bukan pada rasa. Kecuali bahwa, agama -mungkin saja- berhasil menyatukan kita dalam rasa takut yang sama, takut akan kematian, takut akan tuhan ;)
Sisanya hanya ingin berbagi rasa. Sebisa mungkin bersenang-senang, jatuh cinta, tertawa.
Marah, takut, kecewa, atau sedih, boleh ikut ambil bagian, dalam porsi secukupnya.
Akan tiba saatnya, mereka yang ingin menaklukkan atau menyelamatkan dunia, akhirnya hanya ingin berbagi rasa, lewat lagu, lewat drama, lewat sepakbola atau orasi yang mempesona.
Agama? Sejak dulu takkan mampu menyatukan kita, karena ia bersandar pada konsep-konsep, ide-ide, nama-nama, bukan pada rasa. Kecuali bahwa, agama -mungkin saja- berhasil menyatukan kita dalam rasa takut yang sama, takut akan kematian, takut akan tuhan ;)
Langganan:
Postingan (Atom)